Rabu, 02 Maret 2011

Cara Mengukur Tekanan Darah yang Benar

Salah satu cara mengetahui apakah seseorang memiliki hipertensi atau tidak melalui pengukuran tekanan darah. Tapi ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengukuran tekanan darah agar hasilnya akurat.

"Jika seseorang mau mengukur tekanan darah, maka harus terlebih dahulu menyingkirkan segala hal yang dapat mengganggu pengukuran. Selain itu orang tersebut juga harus dalam kondisi tenang," ujar dr A. Sari Sri Mumpuni, SpJP dalam acara seminar dengan tema Berat Badan Ideal, Tekanan Darah Normal di Gedung Ditjen PP&PL, Jl. Percetakan Negara, Jakarta, Senin (12/7/2010).

Alat untuk mengukur tekanan darah (sfigmomanometer) ada 3 jenis yaitu yang menggunakan air raksa, jenis aneroid dan jenis digital. Pengukuran yang paling ideal adalah menggunakan air raksa, tapi penggunaannya harus benar dan sudah terlatih.

Karena pengukuran darah yang tidak akurat akan menimbulkan kesalahan diagnosis dan terapi pengobatan. Bagi orang yang tidak terampil, memang sebaiknya menggunakan alat ukur digital.

"Usahakan saat diukur tekanan darahnya, tidak sedang bercanda atau berbicara. Dan juga pengukuran dilakukan dua kali dengan jarak 1 menit, setelah itu diambil nilai rata-ratanya," ungkap dokter yang tergabung dalam PERHI (Perhimpunan Hipertensi Indonesia) dan PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia).

dr Sari menuturkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat melakukan pemeriksaan tekanan darah, yaitu:
  1. Pastikan kandung kemihnya kosong dan usahakan untuk tidak dalam kondisi menahan kemih.
  2. Menghindari konsumsi kopi, alkohol dan rokok, karena semua hal tersebut dapat meningkatkan tekanan darah.
  3. Sebaiknya istirahat terlebih dahulu selama 5 menit sebelum diperiksa, serta jangan memeriksa saat kondisi tubuh baru sampai dan napasnya terengah-engah.
  4. Jangan berbicara atau bercanda selama melakukan pengukuran.
  5. Tenangkan pikiran, karena pikiran yang tegang dan stres akan meningkatkan tekanan darah dari yang seharusnya.
  6. Pemeriksaan dilakukan dalam posisi duduk dengan siku menekuk di atas meja dan telapak tangan menghadap ke atas.
  7. Gunakan manset sesuai dengan pasien dan jangan menggunakan manset anak-anak untuk orang dewasa.
  8. Letakkan stetoskop tepat di atas arteri brakialis. Saat bunyi pertama terdengar dicatat sebagai tekanan sistolik dan bunyi terakhir yang didengar dicatat sebagai tekanan diastolik.

Tekanan darah memiliki beberapa klasifikasi berdasarkan nilai dari tekanan sistolik dan diastoliknya, yaitu:
  1. Tekanan darah normal, jika sistoliknya kurang dari 120 mmHg dan diastoliknya kurang dari 80 mmHg.
  2. Prehipertensi, jika sistoliknya 120-139 mmHg dan diastoliknya 80-89 mmHg.
  3. Hipertensi stage 1, jika sistoliknya 140-159 mmHg dan diastoliknya 90-99 mmHg.
  4. Hipertensi stage 2, jika sistoliknya lebih dari 160 mmHg dan diastoliknya lebih dari 100 mHg.
Semoga bermanfaat ...


sumber: detikHealth

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda