Rabu, 20 Oktober 2010

Asal-Usul Mal

Agan or sista yang tinggal di kota-kota besar pasti sering ke mal bukan?! Ada yang tujuannya ke mal hanya untuk cari vitamin mata (baca: cuci mata) aja, tapi ada juga yang tujuannya memang benar-benar untuk belanja. Btw, agan/sista mau tahu asal-usul mal? Dilanjut aja kumur-kumur, eh .. bacanya gitu!



Mal adalah kata serapan dari bahasa Inggris “Mall” yang diterjemahkan menjadi gedung atau kelompok gedung yg berisi macam-macam toko dengan dihubungkan oleh lorong/koridor (jalan penghubung). Dalam bahasa aslinya arti Mall mirip dengan pengertian Mal dalam bahasa Indonesia.


The Mall, Inggris
Istilah Mall berangkat dari nama The Mall (1674) di Inggris. The Mall adalah jalanan yang menghubungkan Istana Buckingham, Admiralty Arch, Trafalgar Square, St. James' Park, St. James' Palace, Green Park dan House Guards Parades. The Mall dalam abad ke -20 merupakan jalan yang biasa digunakan dalam acara2 seremonial kerajaan sebagai rute untuk melakukan parade. The Mall dibentuk sedemikian rupa agar pejalan kaki dapat berjalan dengan aman dan nyaman (promenade) dibawah naungan pepohonan.

Sebelum menjadi rute parade, jalanan tersebut kondang dengan nama Mall karena biasa digunakan untuk bermain Pall Mall, yaitu permainan sejenis kriket , menggunakan bola (palla=ball) dengan bantuan pemukul (mallet).

Istilah Mall kemudian digunakan untuk suatu kawasan belanja yang terdapat dalam suatu gedung/kompleks yang dinaungi oleh atap. Sejarah Mall dimulai pada abad ke-7 di ibukota Syria, yaitu Damaskus. Kawasan dagang ini dikenal dengan nama Al-Hamidiyah Souq. Souq dalam bahasa Arab berarti kawasan dagang yang umum terdapat di kota2 Timurtengah/Arab atau kota2 yang penduduknya beragama Islam.

Al-Hamidiyah, Damaskus
Al-Hamidiyah bermula di jalan Al-Thawra dan berakhir di plaza Masjid Umayyah. Keseluruhan kawasan sepanjang 422 meter ini dinaungi oleh atap dan masuk dalam wilayah kota tua di Damaskus. Al-Hamidiyah masih beroperasi hingga saat ini dan termasuk dalam kawasan belanja tertua di dunia.

Teheran pun terkenal dengan Grand Bazaar-nya. Grand Bazaar di Teheran dikenal sebagai kota dalam kota, karena lokasi belanja yang sedemikian luasnya. Panjang koridor atau gang yang terdapat di Grand Bazaar Teheran bila ditotal dapat mencapai lebih kurang 10 km. Namun tidak seluruh area ternaungi oleh atap.

Old Grand Bazaar, Teheran
Grand Bazaar lain yang mendunia adalah Grand Bazaar of Istanbul di Turki. Grand Bazaar ini termasuk dalam kategori mal terbesar dan tertua dengan wilayah belanja meliputi 58 jalan dan 1200 toko yang seluruhnya berada di bawah naungan atap. Resmi dioperasikan tahun 1461 dibawah pemerintahan Sultan Mehmed dan pada abad ke-16 area ini diperluas lagi atas perintah Sultan Sulaiman sehingga mampu menampung hingga 4000 toko.

Gostiny Dvor, Moskow

Kapalicarsi, Istanbul

Sementara di Rusia, gedung pusat belanja dibuka di Moskow tahun 1665, Archangelsk tahun 1668, kemudian tahun 1773 di Kostroma dan tahun 1802 di Saint Petersburg. Seluruh Gostiny Dvor ini dibangun dengan sangat megah dengan mengacu pada arsitektur neoklasik. Gostiny Dvor Saint Petersburg merupakan kompleks yang terbesar, meliputi area seluas 53.000m2 dan
menampung hingga 100 toko. Saat ini hanya Gostiny Dvor Saint Petersburg dan Kostroma yang masih digunakan sebagai mal. Gostiny Dvor Moskow lebih sering digunkan sebagai ajang pesta dan fashion show. Sayangnya Gostiny Dvor Archangelsk mengalami nasib yang buruk. Setelah tidak digunakan lagi, bangunan tersebut berada dalam kondisi mengenaskan. Bahkan sebagaian besar telah runtuh akibat tidak adanya perawatan. Pemerintah setempat berusaha untuk merenovasi bangunan bersejarah tersebut namun tertunda2 akibat kurangnya dana.


Gostiny Dvor, Archangelsk

Gostiny Dvor, Kostroma

Gostiny Dvor,Saint Petersburg
Publik Inggris mengenal The Oxford Covered Market di wilayah Oxford yang dibangun tahun 1774 dan masih beroperasi hingga saat ini.
Kemudian Burlington Arcade yang dibangun atas perintah dari Lord George Cavendish tahun 1819. Burlington Arcade memperkenalkan konsep belanja modern dengan barang2 mewah yang sebagian besar adalah perhiasan dan barang2 pelengkap busana.

Ketenangan suasana belanja di Burlington Arcade sempat terusik ketika tahun 1964 sekelompok perampok memasuki kompleks khusus pejalan kaki tersebut dengan menggunakan mobil Jaguar Mark X. Mereka berhasil menggasak perhiasan senilai 35.000 poundsterling dan tidak pernah tertangkap sampai saat ini.

Italia juga tidak mau kalah dengan membangun Galleria Vittorio Emanuele II di kota Milan tahun 1878. Galleria inilah yang paling mendekati konsep mal modern dengan cirinya yaitu koridor yang luas. Galleria Vittorio meneruskan konsep Burlington Arcade dengan menggunakan struktur besi dan menggunakan kaca sebagai bahan atap utamanya yang berbentuk segi delapan (octagon). Konsep struktur besi ini mengilhami pembangunan Menara Eiffel dan penggunaan istilah “Galleria” bagi bangunan mall dengan atap utama transparan. Saat ini Galleria Vittorio Emanuele II menjadi pusat belanja barang2 berkelas seperti Gucci, Louis Vuitton, Prada dan juga restoran kelas fastfood seperti Mc Donald’s.

Oxford Covered Market, Inggris

Burlington Arcade, Inggris

Galleria Vittorio Emanuele II
Pertumbuhan mal semakin marak terutama di kota2 besar di wilayah Eropa dan Amerika. Tahun 1828, public Amerika dikenalkan dengan
sistem retail mall dengan dibangunnya The Arcade di Providence, Rhode Island. Sejak saat itu mulai Amerika membangun mal dengan gaya mereka sendiri. Tahun 1916 dibangun Market Square di Lake Forest, Illinois dan tahun 1924 dibangun Country Club Plaza di Kansas City, Missouri. Amerika pasca PD II mengalami tingkat pertumbuhan mal yang cukup tinggi, dipacu dengan munculnya kaum suburb (pinggiran) dan meningkatnya produksi kendaraan. Akhirnya tidak hanya pusatkota yang memiliki mal namun daerah pinggiran/tepian kota pun mulai marak dengan pembangunan mal.

*Saat ini mal murni memiliki konotasi sebagai pusat perbelanjaan atau shopping centre dalam arti umum. Mal juga identik dengan pola gaya hidup mewah dan berkelas. Seiring dengan perkembangan jaman dan untuk lebih banyak menggaet lapisan masyarakat datang ke mal maka mal terdiri dari beberapa macam yaitu:

Community mall, biasanya terdapat di sebuah distrik atau kawasan permukiman tertentu dengan tujuan untuk melayani masyarakat di sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan baik selaku pusat belanja ataupun sekedar "mejeng".

City mall, biasanya jauh lebih besar dibanding community mall, karena bertugas untuk melayani aktivitas masyarakat di kota (pinggiran) dengan wilayah2 pemukiman yang tersebar.

Regional mall, jauh lebih besar dari cityl mall dan menjadi semacam ikon (trademark) dari suatu kota (pusat). Dayatarik dari trademark ini sedemikian kuatnya sehingga orang luar yang berkunjung seolah2 memiliki kewajiban untuk mengunjungi regional mall dari kota yang bersangkutan.

Terdapat pula mal khusus dengan tujuan yang spesifik seperti entertainment mall dan leisure mall. Mall jenis ini umumnya lebih mengedepankan fasilitas hiburan dibanding dengan fasilitas belanjanya. Salah satu contoh adalah Mal FX.

Selain mal, fasilitas gedung kawasan belanja kadang disebut plasa (asal kata dari bahasa Spanyol, plaza) dan square (asal kata dari bahasa Inggris). Baik plasa maupun square sebetulnya merujuk pada suatu lapangan terbuka yang ditujukan bagi masyakarakat untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti halnya kita mengenal istilah alun-alun. Konsep plasa dan square ini dikombinasikan dengan konsep mal, sehingga menjadi kawasan belanja dalam gedung dengan lahan tengah (square/plaza) cukup luas untuk menampung berbagai kegiatan2 non reguler semisal fashion show atau pameran mainan anak2. Salah satu mal dengan konsep leisure (hiburan ringan) mal adalah Cilandak Town Square atau kerap disebut Citos. Bagian ini juga kerap digunakan oleh para pengunjung untuk sekedar duduk2 (sambil ber-BB) atau melakukan interaksi sosial.

Semoga bermanfaat ...


sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150258803485150

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda