Sabtu, 12 Maret 2011

Sylvester Stallone, Si Miskin yang Keras Kepala dan "Jual Mahal"

Meskipun miskin, dia tetap keras kepala dan “jual mahal”. Akhirnya Sylvester pun sukses!

Dulunya ia adalah seorang lelaki miskin. Keluarganya memang benar-benar miskin. Sly sendiri dilahirkan oleh ibunya bukan di rumah atau hospital, melainkan di tangga sebuah sekolah.

Ketika mulai bermain film tahun 1970, dia hanya diberi peran pembantu. Honornya bermain di layar lebar dan serial tivi tidak seberapa, hanya mencukupi kebutuhan pokoknya. Perubahan terjadi pada 1976, tatkala film Rocky meledak di seluruh dunia dan menghasilkan uang US$ 170 juta, yang kemudian disusul Rocky II dengan laba US$ 200 juta dan tiga sekuel film Rambo.

Rocky adalah awal kesuksesannya. Skenario film duel ini diatulis sendiri setelah menonton pertandingan tinju kelas berat antara Mohammad Ali dengan Chuck Wepner yang tidak disangka-sangka dimenangkan oleh Wepner. Pernah kubaca entah di buku apa, saat itu, karena masih miskin dan belum punya rumah sendiri, Syl menulis naskah film Rocky di meja warung kopi langganannya. Ditulis dengan pena dan kertas, bukan mesin ketik atau komputer.

Kepada si pemilik warung, dia telah menjual seekor anjing kesayangannya karena tidak punya uang lagi untuk makan, seharga 50 dollar atau hampir 500 ribu rupiah. “Kalau aku sudah punya uang, aku akan datang untuk menebus kembali anjingku ini,” katanya.

Setelah skenario Rocky rampung, dia menemui perusahaan film untuk menjual naskahnya. Ada yang tertarik, dan menawarkan US$ 35 ribu. Uang yang cukup besar baginya saat itu, hampir Rp350 juta. Tapi Syl mengajukan syarat: Harus dia sendiri yang memerankan tokoh utama Rocky, dan tidak boleh orang lain. Perusahaan tersebut awalnya menolak bila Syl membintangi Rocky; mereka hanya mau membeli naskah ceritanya. Syl tetap bertahan. Dia benar-benar ngotot, meskipun saat itu hidupnya miskin. Akhirnya mereka mau membeli skenario yang ditulisnya sekaligus membiarkan Syl menjadi pemeran utama. Rocky pun diputar di bioskop seluruh dunia. Laku keras. Syl mendapat bayaran ratusan miliar sebagai penulis naskah dan aktor.

Dia membuktikan bahwa orang miskin tidak harus selalu mengalah pada kelompok-kelompok dominan.

Tidak lama setelah naskah Rocky terjual, dia langsung menemui pemilik warung yang dulu membeli anjingnya. “Mana anjingku, aku mau menebusnya,” kata Syl, menawarkan harga dua kali lipat. Tapi orang tersebut tidak bersedia menjualnya. Syl menaikkan tawaran, dan akhirnya anjing itu dikembalikan pada Syl seharga hampir Rp150 juta — dari yang dulunya diajual cuma Rp500 ribu.

Di sini Syl menunjukkan komitmennya: Kehidupan, bahkan seekor anjing kesayangan, jauh lebih berharga daripada uang. 

Semoga bermanfaat ...


sumber:

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda