Rabu, 10 November 2010

Krakatau Purba 535 AD : “a Super Colossal Eruption”

Krakatau, gunung yang penuh misteri. Ia seolah tenggelam di Selat Sunda. Krakatau sebagai tanda terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatra yang dulunya pernah menyatu. Krakatau kini nampak jinak dan terdiam, tapi setiap saat dapat menggegerkan dunia dengan letusan dan muntahan laharnya yang begitu dahsyat. Di kala tenang, ia nampak anggun. Namun di kala ia murka, ledakannya yang maha dahsyat menghebohkan seisi Bumi. Ribuan nyawa bisa jadi korban.

Kapan Krakatau akan kembali meletus? Menurut perkiraan, tak lama lagi. Andai itu terjadi pada 2012 mendatang, sudah dipastikan sebagian wilayah Pulau Sumatra (Lampung, Jambi, Sumatra Barat), juga wilayah Pulau Jawa (Banten, Jawa Barat dan bahkan Jakarta) akan menjadi penyumbang korban terbesar. Sebagai catatan, letusan Krakatau pada 1883 saja menelan korban nyawa manusia hampir 36.000 jiwa.

Namun, letusan Krakatau pada 1883 ternyata bukanlah yang terdahsyat. Sudah lama diketahui ada sesuatu yang aneh di sekitar tahun 535 – 536 CE. Kala itu atmosfer Bumi mendadak menggelap sehingga cahaya Matahari yang jatuh ke Bumi diperkirakan tinggal 25 % saja dari intensitasnya semula. Uskup John dari Efesus di Syria mencatat Matahari mendadak jadi gelap selama 18 bulan kemudian, dan setiap harinya sang surya ini hanya menampakkan wajahnya selama 4 jam saja, itu pun samar-samar.

Sebuah catatan di Cina menyebut suara dentuman sangat keras terdengar dari arah barat daya. Sementara di Jawa, Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa (Pararaton), Isinya antara lain menyatakan:
"Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera."
Semua catatan itu merujuk ke sekitar tahun 535 CE.


Kegelapan itu berimplikasi sangat serius pada kemaharajaan Romawi Timur dan Persia yang sedang memuncak. Wabah sampar bergentayangan dimana-mana dan merenggut banyak korban jiwa pada periode yang takkan pernah dilupakan Eropa. Di Cina dan India kelaparan besar berkecamuk, melebihi tragedi kelaparan Ethiopia 1980-an. Di Jazirah Arabia selatan, kerajaan-kerajaan besar runtuh. Komunitas Kristen Arian juga berakhir. Sementara nun jauh di benua Amerika, Teotihuacan berakhir. Metropolitan Tikal yang dibangun bangsa Maya dengan susah payah pun runtuh. Demikian pula peradaban Nazca.

Apa penyebab semua peristiwa dahsyat ini? Para astrofisikawan seperti Dallas Abbott semula menduga ini semua terkait dengan tumbukan benda langit, sebagaimana yang meruntuhkan peradaban manusia di zaman perunggu dan belakangan diketahui terkoneksi dengan terbentuknya Kawah Burckle (29 km) di kedalaman Samudera Hindia. Namun petunjuk terang datang dari lembaran2 es di Antartika dan Arktika. Pada contoh2 es dari tahun 535 – 540 CE dijumpai ion-ion Belerang vulkanik sangat melimpah, menunjukkan peristiwa kegelapan itu lebih terkait dengan aktivitas vulkanik yang luar biasa. Dan karena belerang-belerang itu ditemukan di kedua kutub Bumi, hanya gunung api di wilayah ekuator saja yang bisa melakukan itu. Itulah Krakatau (purba).
Hal ini mendorong K. Wohletz, vulkanolog di Los Alamos National laboratory, membuat simulasi komputer letusan Krakatau purba 535 CE berdasarkan hasil penelitian dan pemetaan geologi seperti dari Escher dan RDM Verbeek di masa Hindia Belanda. Letusan itu memang luar biasa, melontarkan sedikitnya 200 kilometer kubik tephra ke langit dengan energi letusan mencapai 400 megaton TNT. Letusan paroksimal terjadi selama 34 jam (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang hanya 10 jam), namun keseluruhan letusan berlangsung hingga 10 hari kemudian. Terbentuk kaldera berdiameter maksimum 60 km. Tephra yang disemburkan ke langit membentuk lapisan setebal 20 – 50 meter, yang berakibat temperatur global menurun drastis hingga 5 – 10º C dari normalnya sampai 10 – 20 tahun kemudian (semua angka ini diambil dari tulisan Awang dalam IAGI-Net). Harus dicatat bahwa volume 200 kilometer kubik ini adalah volume minimal. Letusan Tabora 1815 juga menyemburkan 200 kilometer kubik tephra ke langit dan cahaya Matahari yang jatuh ke Bumi saat itu masih 75 % dari intensitas semula.
Bagi Indonesia, meski belum banyak diteliti, dampak letusan Krakatau purba 535 CE bisa diduga cukup luar biasa. Letusan inilah yang diduga kuat mengakhiri kerajaan Hindu Tarumanegara yang baru saja mencapai puncak kejayaan di bawah Purnawarman. Lahan pertanian di kerajaan ini musnah oleh tumpukan kerikil dan abu vulkanis, sementara pelabuhan-pelabuhannya musnah terhempas gelombang pasang produk letusan. Pola-pola kerusakan di situs percandian Batujaya (Karawang), yang pada abad ke-6 CE berada di tepi Laut Jawa dan merupakan percandian yang mengagumkan dan lebih luas ketimbang Borobudur, menunjukkan keganasan tsunami itu. 
Bukan tidak mungkin kerajaan Kutai di Kalimantan pun ambruk akibat letusan ini, demikian pula Kalingga di Jawa Tengah.    
sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5790284 


 

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda